Kepala Kankemenag Kota Pariaman: KBC Hadirkan Suasana Cinta dalam Proses Pembelajaran

By MAN Kota Pariaman 26 Jul 2026, 12:19:59 WIB Pendidikan
Kepala Kankemenag Kota Pariaman: KBC Hadirkan Suasana Cinta dalam Proses Pembelajaran

Gambar : Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman, Edy Oktafiandi, menyampaikan materi pada kegiatan Lokakarya MAN Kota Pariaman Tahun Ajaran 2026/2027 di Pangeran City Hotel Padang, Senin (22/6/2026). Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya penguatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan guna mewujudkan pembelajaran yang humanis, bermakna, serta adaptif terhadap perkembangan era digital.


Pariaman, Humas – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Pariaman, Edy Oktafiandi, menjadi narasumber dalam kegiatan Lokakarya MAN Kota Pariaman yang berlangsung di Pangeran City Hotel, Senin (22/6). Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi tentang penguatan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam proses pembelajaran di madrasah.

Di hadapan para guru dan tenaga kependidikan, Edy Oktafiandi menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan cinta sebagai landasan utama dalam proses pendidikan. Menurutnya, KBC bukan sekadar konsep, tetapi sebuah proses pembelajaran yang menghadirkan suasana penuh kasih sayang, kepedulian, dan penghargaan terhadap peserta didik.

“Kurikulum Berbasis Cinta adalah proses pembelajaran dengan suasana cinta, sehingga peserta didik merasa dihargai, diperhatikan, dan termotivasi untuk berkembang secara optimal,” ujarnya.

Lebih lanjut, Edy menekankan bahwa keberhasilan implementasi KBC sangat ditentukan oleh kualitas guru sebagai ujung tombak pendidikan. Oleh karena itu, terdapat empat hal penting yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya.

Pertama, skill atau seni mengajar yang baik agar materi pembelajaran dapat disampaikan secara efektif dan menarik. Kedua, mindset, yakni kemampuan membangun pola pikir yang positif dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan.

Ketiga, attitude atau sikap yang mencerminkan keteladanan, profesionalisme, serta kemampuan menjalin hubungan yang harmonis dengan peserta didik dan lingkungan sekolah. Keempat, karakter yang kuat sebagai fondasi dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia.

Menurutnya, keempat aspek tersebut harus berjalan beriringan agar guru mampu menjadi pendidik yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada peserta didik.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment